Kamis, 12 September 2013
Pahlawan 10 November 1945 yang gugur di Ceram
Ketika
sedang mencari buku diperpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UI, secara
tidak sengaja saya menemukan buku “Koleksi Soe Hok Gie”. Siapa yang
tidak kenal orang ini. Seorang sejarawan Fakultas Satra UI. Bahkan
cerita dirinya difilmkan berjudul “Gie”. Saya langsung meminjam karena
yakin buku ini ada apa-apanya. Judul buku “Sedjarah Bataljon Y”. Mula2
saya berpikir, mengapa Hok Gie mengkoleksi buku ini ?. Bukankah dia
tendensius anti bentuk2 kemiliteran dan juga anti kekerasan. Ternyata
dugaan saya tak salah. Buku ini antara lain mengkisahkan seorang
pahlawan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dia adalah Mayor
Abdullah yang gugur pada tgl 25 September 1950 dalam pendaratan di
Negeri Angus Ceram Timur. Saat itu jabatannya komandan batalyon XVII
Divisi Brawijaya. Dan keberadaannya dalam medan pertempuran, dalam
rangka penumpasan pemberontakan RMS. Sebelum tahun 1945, pekerjaan
Abdullah yang asal Gorontalo itu adalah sebagai “Tukang Beca”. Dirinya
butah huruf sampai tahun 1947. Dan baru bisa membaca tulis atas bantuan
istrinya. Tapi sebagai orang Auto Didact, Abdullah berhasil mencapai
karirnya yang cukup tinggi yaitu komandan batalyon. Dalam peristiwa
pertempuran Surabaya 1945, Abdullah bersama arek2 Surabaya lainnya,
bertempur melawan serdadu asing. Saat itu mula2 bergabung dengan BKR
Laut, kemudian menjadi TKR laut (belakangan TLRI) yang merupakan pasukan
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Pangkalan VII yang bermarkas
didaerah Tanggulangin. Pada tahun 1946, Abdullah memimpin pasukan yang
diberi nama “Bajak Laut”. Pasukan ini mampu bertahan disebelah utara
Sidoarjo. Dalam pertempuran disekitar Buduran-Sruni, Abdullah mampu
memperlihatkan kecakapannya dan keberaniannya. Karena kemampuannya
memimpin pasukan itulah pada April 1947, dia di-serahi memimpin barisan
“Pelopor” dengan pangkat Kapten. Ketika TLRI direorganisir pada Maret
1948, Barisan Pelopor berubah menjadi “Depot Batalyon”. Markasnya juga
pindah kesekitar Lawang. Sebagai komandan Abdullah naik pangkat menjadi
Mayor. Berdasarkan dekrit wakil Presiden, September 1948, TLRI dilebur
menjadi TNI. Dan Depot Batalyon, menjadi Batalyon XVII, Brigade I Divisi
Brawijaya dibawah Kolonel Sungkono. Perlu diketahui, ketika berlangsung
perundingan Linggajati Kapten Abdullah adalah pimpinan pasukan TLRI
yang bertugas didaerah Kuningan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar