Kamis, 12 September 2013
Sebelum menikah dengan Hartini. Soekarno tidak melakukan Poligami
Dalam
bukunya "Mohammad Hatta, memoir", Bung Hatta yang ayah Menteri Peranan
Wanita Meutia Hatta ini bercerita soal proses perkawinan Soekarno dan
Fatmawati pada zaman Jepang : "Pada suatu waktu aku dengar berita, bahwa
Soekarno akan kawin lagi dengan seorang anak didiknya di Bengkulu, yang
namanya yang asli diubah menjadi Fatmawati. Wanita ini tidak lama lagi
akan datang ke Jakarta. Alasan Soekarno ialah bahwa Ibu Inggit tidak
dapat mempunyai anak lagi, sedangkan Soekarno ingin mempunyai turunan.
Menurut Kyai Mansur, mungkin Ibu Inggit tidak berkeberatan, sebab ia
sendiri kenal Fatmawati. Waktu di Bengkulu, Fatmawati sering datang ke
rumahnya dan sering pula bergaul dengan dia. Malahan dipandangnya
sebagai anaknya sendiri. Dalam pada itu, atas petunjuk Soekarno, Shimizu
dapat mengusahakan, supaya Pegangsaan Timur 56 dapat ditentukan untuk
rumah kediaman Soekarno. Ibu Inggit masih tinggal di rumah di pojok
jalan Oranye Boulevard dan jalan Mampang. Pada suatu
hari Soekarno datang ke kantorku, mengatakan kepadaku, bahwa ia terpaksa
bercerai dengan Inggit, tetapi beberapa syarat yang berhubungan dengan
perceraian itu dibuat di muka anggota empat serangkai lainnya.
Aku menjawab bahwa apabila perceraian itu tidak dapat dihindarkan, aku
bersedia, syarat-syarat akibat perceraian itu dibuat oleh empat serangkai pada
kantorku itu. Harinya kami tentukan keesokan harinya, kira-kira jam 10
pagi dan Soekarno akan memberitahukan kepada Dewantoro dan Kiayi Mansur.
Keesokan harinya pada jam 10 pagi kami bersidang dikamarku. Syarat itu
ialah : 1. Soekarno akan memberi belanja hidup saban bulan kepada Inggit
selama hidupnya. 2. Soekarno akan membelikan sebuah rumah di Bandung
untuk kediaman Inggit seumur hidupnya. Kedua syarat itu dibuat dimuka empat serangkai dan ditanda tangani oleh empat serangkai masing-masing.
Aku kira syarat itu tidak berat dan masuk akal. Soalnya ialah siapa
yang akan mengawasi bahwa kedua syarat itu dilaksanakan oleh Soekarno
?". Shimizu adalah kepala pusat propaganda bala tentara Jepang ke 16
yang amat berkuasa untuk membagi-bagi rumah tinggalan Belanda. Oranye
Boulevard adalah jalan Diponegoro sekarang dan jalan Mampang adalah
jalan Tjikditiro sekarang. Empat serangkai adalah istilah kelompok para
pemimpin Indonesia dizaman Jepang yang dijuluki oleh Soekardjo
Wirjopranoto pimpinan surat kabar Asia Raya. Mereka adalah Soekarno,
Hatta, Kiayi Mas mansur dan Kihajar Dewantoro. Foto atas : Hari Ibu
tanggal 22 Desember 1947 bertempat dialun-alun Yogya. Tampak baris
depan, dari kiri kekanan Bu Dirman, Bu Fatmawati, Pak Dirman dan
Presiden Soekarno. Sedang berpidato Ibu SK Trimurti.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar