Ketika seseorang menginginkan sesuatu, seringkali aspek emosional
lebih mendominasi daripada aspek rasional. Bayangkan ketika Anda
berjalan-jalan ke mall kemudian melihat tas yang bagus. Anda sangat
ingin memilikinya karena tas tersebut akan match dengan gaya
Anda sekaligus dapat ditunjukkan kepada rekan-rekan waktu pertemuan
bersama minggu depan. Aspek emosional yang muncul adalah hasrat kuat
untuk memiliki sehingga seolah-olah menjadi kebutuhan.
Jika kita berhenti sejenak dan berpikir, maka Anda bisa
mempertimbangkan keputusan pembelian dengan lebih jernih. Anda akan
berpikir bahwa di rumah masih ada 3 tas bagus yang jarang dipakai. Tas
yang baru dilihat inipun mungkin hanya akan terpakai beberapa kali.
Kalau dibeli, harganya cukup mahal sementara kegunaannya terbatas. Untuk
memenuhi gengsi mungkin terlihat diperlukan tapi secara fungsi
sebenarnya tidak ada yang berbeda.
Lantas, apakah setiap keinginan selalu tidak baik dan tidak boleh
dipenuhi? Jawabannya adalah tergantung kondisi dan kemampuan Anda saat
itu. Jika Anda memiliki banyak uang, membeli barang yang mahal dan
memiliki prestise tentu sah-sah saja asalkan bukan dengan niat
menyombongkan diri. Sebaliknya jika penghasilan Anda masih terbatas tapi
memaksakan, maka di sinilah letak permasalahannya. Orang yang memiliki
uang banyak sekalipun bukan berarti bisa memenuhi apa yang
diinginkannya. Prinsip utama adalah pengendalian diri, pengendalian
keinginan, dan menilai secara bijak apa yang perlu dipenuhi dan apa yang
tidak. Dengan demikian Anda menjadi pengambil keputusan yang bijaksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar